Sepantasnya aku bersyukur ditegahnya kegersangan dunia. Lelaki yatim yang ditinggalkan bersama harta yang tak terhingga harganya, dialah ibuku, yang biasa kupanggil mama. Kami sempat teregah oleh ujian tuhan yang tak berbatas, dia memberi hal yang bertubi tanpa jeda. Mungkin Awal yang indah ketika harta bergelimang tanpa ada habisnya kupikir. Terangkat derajat hingga sukma yang berbinar tanpa ada yang tahu darimana mereka berasal. Tapi tak tersangka ketika dunia memutuskan bahwa kami tlah bersalah. Diangkatnya kembali segala apa yang termiliki kepada sang pemilik yang sebenarnya, yaitu tuhanku yang maha pemurah allah swt. Tersungging sebuah senyum walau syukur yang kemarin ada tak pernah terucap. Ditiggalkannya sebuah rumah tua berbahan kayu beralas tanah untuk kami hamba yang dicipta yang dahulu tanpa syukur kupikir. Hari ini tetap menjadi awal ketika dunia akan memulai untuk menerima segala maaf yang akan terucap walau tanpa teregah. Mungkin tuhanku yang maha pemurah allah swt selalu mendengar kami yang selalu memulai syukur kepadanya. Perlahan kami kembali kepada apa yang pernah kami rasa di dunia. Ujian yang indah kupikir, ujian yang tak lama dan hanya sementara. Terimakasih kepada yang maha pemurah ya tuhanku allah swt. Nikmat yang terasa hingga ke ubun - ubun, turun ke hati dan terbawa di dalam ibadah lelaki tua yang paling ku sayangi, yang biasa ku panggil papa. Yah memang aku terasa lengkap, diiringi suara gelak tawa mereka yang sangat mencintaiku. Papa, mama, abang, kakak, mereka adalah bagian dari apa yang tidak semua orang miliki. Betapa indahnya dunia ketika aku bersyukur dengan keaadaan yang selalu indah tanpa hantaman dan ujian yang maha indah dari sang maha pemurah ya tuhanku allah swt. Tapi segala yang terpikir tak berjalan baik. Dimana seperti biasa kami duduk diruang keluarga yang terbiasa dengan gelak tawa keindahan dibawah naungan sebuah nama yang biasa di sebut orang sebagai keluarga. Tapi hari ini berbeda, hening terasa. Ada apa ini? Kedua orang kakak dan abang yang kucinta terlihat lusuh. Berbaregan bersama pasangan hidup abang yang saat itu ikut menularkan kesedihan yang terpancar dari sang suami. Serta bersama keponakan kesayangan yang ikut terdiam dan mungkin bertanya - bertanya seperti yang aku pikirkan saat ini. Mungkin karna kami sebagai bocah ingusan yang tak mengerti situasi. Yaaah, kami hanya dapat menunggu hingga dunia membuka segala yang akan terjadi pada sore itu. Wajah sedih berubah menjadi riang yang tak paham bahwa situasi sedang tak membaik. Hal ini terpancar dari mama, begiupula dari papa. Mereka berpisah, menentukan nasib yang tak baik bahwa dengan ini akan menjadi lebih baik. Apakah itu alasan riang yang tak beralasan keluar dari mimik wajah indah keluargaku? Entahlah, semua tlah terjadi dan aku hidup ditengah keluarga yang terbelah - belah. Aku pikir ini ujian yang paling indah, terimakasih akan semua hal yang tlah terberi dan disini tlah terketahui bahwa cinta tak kekal, bahwa cinta akan berujung. Sekali lagi tuhanku yang maha pemurah ya allah swt mengungkapkan bahwa cinta yang kekal adalah cinta kepada tuhan, cinta yang tak berujung adala cinta kepada tuhan. Baiklah, aku mulai ingin belajar tentang kesyukuran kepada tuhan. Hal indah menanamkan kepadaku bahwa dia bukanlah waktu dimana aku harus berhenti bersyukur. Karna inilah saatnya, sepantasnya aku bersyukur ditegahnya kegersangan dunia. Ujian inilah yang membawaku menyebrang lautan, berpindah menuju kota yang sekarang ku tempati. Kutemukan segala yang baru, teman, kehidupan, hari dan suasana yang baru. Awal yang tersulit, kebetahan yang tak kunjung kudapati hingga aku belajar untuk mengetahui segala hal yang akan terkaji di dunia ini. LDR, yah long distance relationship. Bukan kepada kekasih hati, ketahuilah bahwa kehidupan percintaan tak pernah terpikirkan. hidupku kadang tak kuketahui, apalagi soal cinta. Terkadang aku seperti bocah kolot yang masih ingin berada di bawah ketiak mama. Yah bukan masalah cinta, tetapi LDR kepada papa, abang dan kakak yang masih saja tak ingin untuk bergabung menikmati kota yang baru ini. Walau tak lama lagi abang dan kakak akan mencoba peruntungannya disini, tapi papa tetap tak ingin berpindah dari kota kelahiran kami sekeluarga. Terlebih cinta tak pernah lagi menjadi alasan pada mereka untuk bersatu kembali. Yaaah, orang tua. Mereka lah yang akan menentukan, keegoisanku tak akan memenangkannya. Apalagi disini, mama mulai memperkenalkanku kepada seorang lelaki tua. Yaah tak terasa beda dari papa. Perawakan besar berambut putih berkulit hitam dan berwajah seram. Awalnya ku panggil om, memperkenalkan diri sebagai teman terdekat mama. Mereka terlihat sangatlah dekat sekali, lebih dari teman kupikir. Terlihat seperi sepasang remaja yang sedang kasmaran hahaha. Yasudahlah, aku tak bisa berbuat apa - apa. Tapi tak berselang lama, mereka mulai sering bercerita tentang kehidupan masa depan kepadaku. Akan ada kehidupan yang baru dan aku akan merasa sangat berbahagia jelasnya. Yaaah, mereka akan menikah pikirku. Dia lelaki perawakan seram yang sekarang kupanggil papi akan membunuhku pikirku. Rasa takutku menanar, merekah, dan membias. Suara burung merambat dan terjelaskan apapun yang akan dilakukan orang tua tiri kepada bocah kecil sepertiku. Panjang pikirku untuk menerimanya sebagai seseorang yang akan menggantikan posisi papa selama aku berkehidupan di kota yang tak kukenali ini. Berlanjutnya cerita, mungkin dia tak seperi yang terpikirkan. ternyata dia adalah orang yang terbaik untuk mama. Hatinya bersih, sifatnya seperti berlian, menyayangi kami anak - anaknya walau bukan buah darinya, bukan darah dagingnya. Papi namanya, seperti malaikat yang diturunkan kepada keluarga kami. Mungkin karna ini kesyukuran, karna ujian tak akan terpikirkan bila rasa syukur selalu terpancar di setiap hembusan napas. Karna lagi - lagi sudah sepantasnya aku bersyukur di tengahnya kegersangan dunia. Kebersyukuran yang kurasakan sangatlah indah, mentari yang memanaskan saja terasa sejuk rasaku. Kebersyukuran mendapat pengganti sosok ayah, selalu menepati keinginanku, membahagiakan mama dengan segala keindahan dalam permintaan dan dibalas dengan perwujudan, luar biasa sekali kupikir. Walau tak sedikitpun terlupakan sesosok kesayangan yang kami tinggalkan di kota sana. Papa yang selalu setia menyendiri tanpa sesosok yang menemani. Tetapi kami tetap selalu punya waktu untuk bertemu, kukunjungi papa diwaktu sekolah sedang tak menunjukkan aktifitasnya, Begitu pula dengan kakak dan abang. Kami bergantian untuk sesekali menemani papa yang bisa dikatakan sebagai lelaki tua tanpa renta yang selalu kuat dalam menjalani kehidupan, setia menyendiri atau setia menunggu mama. Entahlah, yang jelas hanya sendiri ditengah rumah yang besar yang seharusnya berpenghuni. Aku, kakak dan abang selalu ingin berecana menemukan pasangan yang setia kepada papa. Hingga tercetuslah sebuah nama, hingga terucap juga dari mulut - mulut indah kami akan papa yang akan mengakhiri masa lajang sementaranya. Kesetiaannya dalam menyendiri akan berakhir kupikir. Karna sudah sepantasnya lelaki tua tanpa renta yang terlihat gagah ini mendapatkan sesorang yang dapat mengisi hari - hari tuanya. Dialah seorang wanita yang biasa kupanggil tante. Usia sepantaran mama pikirku, wanita beranak tiga dengan gaya modis yang masih tetap mengikuti perkembangan zaman. sangat pas sekali jika bersanding dengan papa untuk menjalani kehidupan, yaah pas sekali pikirku. Dan lagi - lagi kesyukuran itu kembali hadir. Sudah sepantasnya aku bersyukur di tengahnya kegersangan dunia. Karna lagi - lagi tuhanku yang maha pemurah ya allah swt memberikan keindahan yang jelas berbeda, meberikan keindahan duniawi yang tak semua orang pernah memilikinya. Kembali kedalam alurnya, aku tetap menikmati hidupku yang baru dengan segala sesuatu yang terbaru. Disini, di kota yang berbeda dengan papa. Mungkin sebagai persiapan penyebutan ijab kabul yang akan berlangsung satu bulan kedepan. Menanti liburan sekolah dan bersiap kembali ke kota kelahiran untuk melihat sesosok pasangan tua yang akan melangsungkan pernikahan. Mungkin papa akan bahagia, begitu pula dengan kami. Karna orang tua tiri tak selamanya menjadi ancaman di dalam hidupku. Karna allah swt yang maha pemurah telah menciptakan sifat dan rasa yang tlah diberikannya kepada setiap hambanya. Kembali kedalam alurnya, dan lagi - lagi tak menyenangkan untuk di simak. Papa terjatuh di dalam keadaannya yang tak pernah renta. Dia dibopong oleh para pengikut setia yang membawanya menuju ruang perawatan. ICU tlah menantinya untuk segera ditempatinya. Kami disini dari kejauhan menjadi riuh, aku terdiam, kakak menangis, dan abang bergegas menuju bandara agar segera terbang menuju papa yang sedang menunggu kami. Aku dan kakak tak sempat berada disisinya saat itu, kami menjalankan aktifitas yang memaksa untuk tetap tinggal. Ujian akhir semester yang kujalani harus tetap terlaksana, begitu pula dengan kakak yang harus tetap setia kepada para nasabah - nasabahnya yang selalu mengiringi setiap langkah di dalam pekerjaannya. Dan kami tetap menunggu kabar dari abang yang setia menemani papa di dalam sakitnya. Kami menunggu Sehari, dua hari, tiga hari, tiada kabar baik. hingga datanglah subuh, tepat hari ketiga jatuh terbaringnya papa di kasur tanpa indah yang membawanya tetap ingin pulang. tak sempat menunggu adzan datang telepon berdering membawa kabar duka, papa tlah tiada katanya. jatuhlah air mata yang coba kutampung dengan rasa berkecamuk hingga mentari pun malu menampakkan dirinya. mendung terasa seisi rumah, hujan menggenangi setiap sudut mata serta lidah yang tak mampu mengucap kata - kata yang terbiasa kasar terhadap apapun yang mereka sayangi. innalillahi wainailaihi roji'un, terucap serentak seisi rumah hingga tanpa ada rasa mengalir malah penuh di dalam dada. mama pun bergegas, siapkan diri, memesan tiket terpagi menuju kota kelahiran tercinta. kala itu kami terbang bertiga, bersama kakak dan teman hidup kakak yang sekarang tlah menjadi suaminya. pesawat pukul 9 pagi kami naiki dan mungkin mendarat pada pukul 10 lebih 15 menit. sepanjang perjalanan aku termenung, sosok itu tlah tiada dan aku tlah memiliki julukan baru kupikir. yatim, yaaa yatim. yatim lah aku sekarang. tanpa sesosok ayah yang kucintai. tapi aku harus tetap bersyukur dengan apapun di dunia karna tuhanku yang maha pemurah ya allah swt berikan padaku sesosok ayah yang luar biasa. Bersyukur kembali di lidahku hingga aku mendarat di kota kelahiranku. tepat setahun sebelum kejadian, rupa ini lah yang mengantarku kembali ke kota yang sekarang ku tempati. setelah terpikir, itu lambaian terkahirnya. luar biasa sekali ku pikir, hampa sekali terasa. hingga akhirnya aku sampai dirumah kami dulu. papa tlah terbaring tanpa nafas sekalipun. ternyata ini suatu kenyataan, akupun menangis dan berpikir kembali. aku yatim sekarang, bersyukurlah kalian yang masih setia bersanding dengan sosok indah yaitu orang tua tercinta. kalian masih memiliki kesempatan untuk melawan mereka, memarahi mereka, apalagi memukul mereka. menyesalkan lah segalanya ketika mereka tlah tiada, karna aku tak memiliki kesempatan yang sama seperti kalian yaitu memeluk mereka, membahagiakan mereka, bersujud di kaki mereka dan membawa mereka ke tanah suci yang indahnya luar biasa. bersyukurlah, karna sepantasnya kita bersyukur ditegahnya kegersangan dunia. dan lagi - lagi aku bersyukur, semoga kesyukuran ini tak pernah terlupa walau kedua kelopak mata tak lagi mampu terangkat untuk menikmati indahnya dunia. sekarang hanya mama yang ku miliki, kehidupan baru segera di mulai ku pikir. kakak pun tlah menikah, dan kami bertiga akn hidup rukun bersama. hingga suatu hari si yatim ini menyusul kakak dan abang menuju berkah yang akan terlimpahkan. ini mungkin segelintir yang aku ceritakan, agar dunia tahu betapa beruntungnya aku dan betapa tidak beruntungnya kalian yang memiliki orang - orang tercinta yang mengililingi kalian tetap masih terucap kata kasar dari mulut indah yang seharusnya menjadi cinta untuk mereka orang tua yang paling kita kasihi dan sayangi. aku yang seperti ini, tetap masih setia untuk menyakiti hati mama yang tunggal dan tetap setia bersamaku. terkadang sumpah syukurku kulawan dengan amarahku, terlebih kepada mama. terkadang sumpah syukurku terlupa dan terbawa hingga aku lupa dunia. terkadang sumpah syukurku yang keluar dari mulutku ini tetap membawaku untuk lupa beribadah kepada sang pencipta. terkadang sumpah syukurku masih labil dan tidak kuat hingga aku terlupa untuk melangkah ke jalan yang benar. tetapi satu sumpah syukurku yang masih ku pegang hingga hari ini aku menulis kisah kecilku ini, yaitu syukurku memiliki mama yang tetap setia menemani dan menjagaku walau hidup tunggal hingga keringat dan tangisnya pun tertukar dengan darahnya sendiri. bagaimana dengan kalian? sudahkah bersyukur dengan segala yang mama papa kalian berikan? sudahkah kalian bersyukur karna masih memiliki mereka? bagaimana, sudahkah bersyukur???
wrote: 14-16 agustus 2014
posted: 19 agustus 2014/ 13:30
muhammad agung putra
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer



0 komentar:
Posting Komentar