Selama rehat tiga puluh tujuh jam
Mungkin air tanpa tersentuh
Hanya menetes dari beberapa lubang tubuh
Tegak pun tanpa rasa
Buka mata tanpa lengah
Gigit jari tanpa keringat di tengah suhu salju
Bagai kabut padahal remang mata
Tak sadar gumamku tanpa dewa
Harusnya ku diam sembari mengahapus tiap tetesan
Huaaaaaaaaaah......
Tetesan air tetap mengucur dari lubang ini
Suhu ku stabil, tapi lubang ini masih merana
Sedikit pil itu membantuku
Tapi bukan alasan baginya untuk sembuh
Sedikit bantuan dari sang ibu
Katanya kotak itu terlalu beku
Alasan mengapa dia selalu menetes terus
Tapi ku menolak !
Bilik rumah sakit tersedia itu
Artian tanpa alasan bagi sang dewa untuk membunuh
Apakah tetesan ini akan berhenti sempurna?
Keringatpun tak kunjung datang
Biasa semangkuk sup akan mempermudah segalanya
Kini segelas teh hangat pun tanpa kuterima
Rehat tiga puluh tujuh jam tanpa air
Itu diluar kuasanya
Malah tubuh semakin lelah
Sembari cair mengalir, menetes
Terkadang tertimbul luka
Yah selembar tisu saja menjadi teman
Pengharapan selembar selimut padahal
Begini sulit manusia utara
Kurasa untuk menangis pun tak bisa
Lebih baik aku jadi agung yang biasanya
Tanpa merasakan suhu berubah
Tanpa merasakan tetesan hebat
Tanpa terdiam rehat tiga puluh tujuh jam lamanya
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer


